Thursday, June 14, 2012

Dia

dia sudah tiba ke pintu asalnya
hampir menamatkan takdirnya
meninggikan nilai diri
dia sudah jauh terbang
hilang di sebalik awan hitam
dan, aku menebarkan doa kudusku
agar di situ nanti
dia temui pari-pari
yang menyerahkan jubah anggun
menutupi jumud rasa dia
Tuhanku, terima kasih
ketika kudengar dia
berlindung di bawah dinding rahmatMu. 


Friday, June 8, 2012

Sebuah Perbualan


Mahasiswa kemudian bertanya: “Apakah dingin itu ada?” Perbincangan menjadi hangat sehangat metari. 
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu dingin itu ada. Tak pernahkah kamu sakit flu?” ujar sang Profesor diiringi tawa mahasiwa-mahasiswa lain.
“Kenyataannya,” mahasiswa itu bicara, “Dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”
Pertanyaan kedua: Profesor, apakah gelap itu ada?
Profesor: Tentu. Gelap itu ada.
Mahasiswa: “Sekali lagi Anda salah, Sir. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari. Gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kita memakai kata gelap untuk ketiadaan cahaya.”
Pada akhirnya, pertanyaan ketiga: Profesor, apakah kejahatan itu ada?
Profesor: Ya, seperti yang telah saya katakan…
Mahasiswa : Sekali lagi Anda salah, Sir. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan di hati manusia. Bagaikan dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya…”
Profesor itu terdiam.
Tetapi beberapa tahun kemudian, mahasiswa yang mengajukan tiga pertanyaan dan menjawabnya sendiri dengan cerdas itu, Albert Einstein, mengirim rekomendasi kepada Presiden Carter. Isinya: segera lengkapi arsenal Amerika dengan bom neutron. Dan kita tahu selanjutnya adalah bom untuk Hiroshima dan Nagasaki. Jahatkah Einstein?
Yang kita tahu: buku-buku sejarah menyebutkan bahwa Tuan Besar selalu mengundang keruntuhannya sendiri. No. 2, 3, 4 akan bergabung melawannya, membangun aliansi tandingan dan merencanakan kejatuhannya. Hal itu terjadi pada Napoleon, sama seperti yang menimpa Louis XIV dan Hapsburgs yang sangat kuat, juga Hitler dan Stalin. Kekusaan selalu memicu kekuasaan tandingan yang kuat —tentang aturan tertua politik dunia, oleh Josef Joffe.

Tuesday, April 10, 2012

Al Fatihah

Salam,

Entah kenapa perasaan saya terasa sebu, sedih, sebak, kasihan berbaur-baur melimpah ruah apabila mendengar sebuah berita yang sangat menyayat hati. Saya mendengar berita kematian seorang bapa kepada bekas murid saya iaitu ayah kepada Mohd Hasbi Yap. Arwah ayahnya pula meninggal di India dan sedang dalam perjalanan ke Kuala Lumpur.  Innalillah...

Saya berdoa semoga Allah SWT memudahkan perjalanan kembalinya jasadnya ke Malaysia. Saya berdoa semoga Allah memudahkan proses pengebumiannya. Saya berdoa semoga Allah SWT menimpakan kesabaran hati dan keredhaan kepada isteri, anak-anak dan sanak-saudaranya menerima berita yang sangat menyayat hati dan tidak pernah tersangkakan ini. Semoga Allah SWT juga menempatkan arwah ayahnya bersama hamba-hamba Allah yang beriman dan baik-baik. InsyaAllah.

Marilah kita sama-sama berdoa dan menyedekahkan Al-fatihah kepada roh allahyarham. Al-fatihah.

Saturday, April 7, 2012

Jambatan Kuala Penyu

Jambatan Kuala Penyu yang baru siap dibina pada Mac 2012
Assalamualaikum,

Pada 7 haribulan April 2012 saya dan anak-anak balik ke Kuala Penyu. Barulah terubat rindu yang bertandang memandang wajah Kuala Penyu. Jambatan Kuala Penyu pun sudah siap dan boleh dijalani. Sungguh menakjubkan, sebuah jambatan yang diidam-idamkan oleh penduduk Kuala Penyu sejak lebih tiga puluh tahun lalu sudahpun terletak elok di antara Kampung Palu-Palu dan Pekan Kuala Penyu. Memang hebat! Syukur alhamdulillah. Walaupun apa yang diimpikan itu lambat terjadi, namun impian itu tetap ditunaikan dengan izin Allah SWT. Alhamdulillah, syukur dengan izinNya.

Kemudian, saya tiba di rumah kami yang dulu. Tanah yang penuh kontroversi. Tidak apa, rumah kami masih berdiri kukuh di atas tanah kontroversi itu. Saya melihat sekeliling. Rumah Hj Awang Ahmad sudah berdiri rumah yang baru dua tingkat. Jiran di sebelah kami, Cikgu Fadilah sudah siap rumah dua tingkat berwarna putih. Di hadapan rumah kami, sudah berdiri tiga buah rumah sewa, khabarnya. Di belakang rumah kami, beberapa buah rumah banglo sudah berdiri megah. Jalan raya juga sudah dibesarkan. Tidak jauh dari rumah kami terdapat sebuah bulatan untuk berpusing atau "u-turn" di situ.

Tidak banyak perbezaan antara kampung saya yang dulu dan sekarang. Hanya itulah sahaja yang berbeza namun tetap tidak banyak perbezaannya sejak tiga puluh tahun yang lalu. Syukurlah, kampung kami tetap berdiri megah dengan penduduknya yang boleh dikira dengan tangan.

Gambar-gambar di bawah merupakan jambatan Kuala Penyu yang sudah siap dibina dan telah dirasmikan oleh Datuk Lajim Haji Okin kira-kira dua minggu yang lalu.

Jambatan Kuala Penyu dari pandangan depan.

Friday, April 6, 2012

Kenangan bersama Ayah Datang Lagi

Pelbagai idea berasaskan "ayah" dapat kuhasilkan. Novel yang bertajuk "Ayah: Keringatmu Yang Mengalir" kutulis berdasarkan sebuah novel dengan tajuk yang sama. Cerpen dan novel remaja tersebut memang ada rezeki telah memenangi hadiah beberapa kali di peringkat negeri Sabah. Mungkin memang rezeki ayah, novel yang berkisarkan 90% kisah ayah itu mendapat perhatian dari penilai novel tersebut sehingga saya akhirnya dinobatkan sebagai Penulis Muda Harapan Negeri Sabah 2004. Syukurlah, segalanya atas idea saya mengenai ayah yang begitu gigih mengerjakan kebunnya saban hari dan kecekalannya mengusahakan kebun getahnya yang masih subur sehingga hari ini, semuanya saya nukilkan di atas sebuah kertas yang dipanggil cerpen dan novel.

Bulan April 18 haribulan 2009 merupakan tarikh keramat bagi mengingati ayah yang sangat tersohor budinya terhadap saya sebagai anaknya. Kini bulan April menjelang lagi. Pasti kenangan-kenangan bersama ayah lebih menajamkan ingatan ketika ayah masih hidup. Sebulan sebelum meninggal dunia, saya dan suami melawat ayah di kampung Kepayan Kuala Penyu. Ketika itu, ayah sakit kerana terjatuh. Saya melawatnya pada suatu petang. Alangkah gembiranya ayah. Sungguh gembira ayah memandang anak perempuannya ini, namun senyuman itu sirna seketika apabila anak-anak buah hati ayah tidak ikut bersama. Akhirnya saya memujuk ayah untuk membawa ayah ke rumah kami. Saya mahu menghantar ayah ke hospital untuk mendapatkan rawatan. Sebelum dibawa ke rumah kami, ayah terjatuh dari katil. Kaki ayah patah, kata doktor. Rupanya itulah kali terakhir ayah tersenyum gembira dan ceria bersama kami. Selepas itu ayah sudah tidak sihat dan akhirnya tidak sedar lagi. Beberapa minggu ayah di hospital. Kemudian, seminggu ayah dimasukkan ke Hospital Kuala Penyu. Tidak lama kemudian, ayah menghembuskan nafasnya yang terakhir di hospital itu.

Itulah kenangan terakhir saya bersama ayah. Semuanya yang indah-indah belaka. Kenangan hadir lagi. Sewaktu kecil saya pura-pura penat sewaktu balik dari kebunnya di Kg Jangkit. Ayah akan 'menyikut' atau mengangkat saya di belakangnya. Saya sungguh gembira, diangkat ayah dan tak perlu penat-penat berjalan balik ke rumah. Oh, sungguh indah kenangan itu. Dengan baju yang agak lusuh kami ke kebun dan memungut sekerap getah yang telah kering dan dikumpulkan di dalam sebuah karung. Ayah adakan pertandingan lagi. Karung siapa yang cepat penuh, ayah akan beri hadiah. Sungguh seronok musim kanak-kanak saya, pasti takkan sama dengan anak-anak saya sekarang!
         18 April 2009 ayah pergi untuk selama-lamanya, tidak akan pernah kembali lagi untuk saya salami tangannya setiap kali bertemu ayah. Ayah sudah hampir tiga tahun bersemadi jenazahnya di Tanah Perkuburan Kampung Manggis Kuala Penyu. Allah amat menyayangi ayah lebih dari kasih sayang yang kami curahkan selama ini. Semoga roh ayahanda saya bersemadi dengan aman dan bersama umat Islam yang berbahagia di dunia dan di akhirat. Alfatihah untuk ayahanda Othman bin Kari yang telah kembali ke rahmatullah. Suatu hari saya dan anak-anak ayahanda yang lain juga akan menyusul. Amiiin.
         Namun, apa yang lebih membahagiakan diri sendiri adalah kelembutan ayah sewaktu hayatnya mendidik kami menjadi manusia berguna di dunia ini. InsyaAllah.