Thursday, June 14, 2012

Saat Nazak
(Dedikasi Buat Arwah Hj Abdul Aziz Hj Ahmad)

Saat ombak berguliran di terjang gelombang, sang pari-pari berwajah bersih bersayap cinta dengan kalam indah singgah di musim rembang melihat dia. Ya Allah, Kau ambillah diajika benar pintu hayatnyasudah tiba di garis terakhir. Jangan Kaubiarkan dia tersekat tanpa nafas terasuh tanpa senyum terakam dan sekujur jasad itu terbentang gelisah dipanah sengsara. Jangan Kauturunkan tukang seksa buat dia. Hadiahkanlah dia wangian kasturi syurga. Hadiahkan dia manna dan salwa. Kembalikan dia ke kampung asal dengan rembesan hujan rahmat, dengan sambutan sang pari-pari syurga dan kembali dengan cintaMu, Rabbi. 

Dan, berilah kami khabar gembira. Aku menanti. 
Pabila


Pabila kau tersenyum
terhadir kasturi bahagia
mengalir ke seluruh ombak dada
Duhai malaikat, 
aminkan kunci kebahagiaanku. 
      Destinasi Kota Cinta


     Kau, di luar kamar cinta... gagah berlari di pentas waktu. 
     kejar destinasi kota cinta kita. Aku terlihat keringatmu luruh di sepanjang jalan usaha. 
     kuterlihat kau terus memaku takar tawakkal. Aku terus mengangkat piala doa. 
     Di hujung jalan usaha Allah memberkati kita. Kau, terus berlari mengejar destinasi kota cinta kita. 
     
Dia

dia sudah tiba ke pintu asalnya
hampir menamatkan takdirnya
meninggikan nilai diri
dia sudah jauh terbang
hilang di sebalik awan hitam
dan, aku menebarkan doa kudusku
agar di situ nanti
dia temui pari-pari
yang menyerahkan jubah anggun
menutupi jumud rasa dia
Tuhanku, terima kasih
ketika kudengar dia
berlindung di bawah dinding rahmatMu. 


Friday, June 8, 2012

Sebuah Perbualan


Mahasiswa kemudian bertanya: “Apakah dingin itu ada?” Perbincangan menjadi hangat sehangat metari. 
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu dingin itu ada. Tak pernahkah kamu sakit flu?” ujar sang Profesor diiringi tawa mahasiwa-mahasiswa lain.
“Kenyataannya,” mahasiswa itu bicara, “Dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”
Pertanyaan kedua: Profesor, apakah gelap itu ada?
Profesor: Tentu. Gelap itu ada.
Mahasiswa: “Sekali lagi Anda salah, Sir. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari. Gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kita memakai kata gelap untuk ketiadaan cahaya.”
Pada akhirnya, pertanyaan ketiga: Profesor, apakah kejahatan itu ada?
Profesor: Ya, seperti yang telah saya katakan…
Mahasiswa : Sekali lagi Anda salah, Sir. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan di hati manusia. Bagaikan dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya…”
Profesor itu terdiam.
Tetapi beberapa tahun kemudian, mahasiswa yang mengajukan tiga pertanyaan dan menjawabnya sendiri dengan cerdas itu, Albert Einstein, mengirim rekomendasi kepada Presiden Carter. Isinya: segera lengkapi arsenal Amerika dengan bom neutron. Dan kita tahu selanjutnya adalah bom untuk Hiroshima dan Nagasaki. Jahatkah Einstein?
Yang kita tahu: buku-buku sejarah menyebutkan bahwa Tuan Besar selalu mengundang keruntuhannya sendiri. No. 2, 3, 4 akan bergabung melawannya, membangun aliansi tandingan dan merencanakan kejatuhannya. Hal itu terjadi pada Napoleon, sama seperti yang menimpa Louis XIV dan Hapsburgs yang sangat kuat, juga Hitler dan Stalin. Kekusaan selalu memicu kekuasaan tandingan yang kuat —tentang aturan tertua politik dunia, oleh Josef Joffe.